RajaCerdas.ORG Situs Poker Online Terpercaya dengan Bonus Rollingan dan Referral Tertinggi

Header Ads

bandarq BandarQ bandarq Agen Togel Terpercaya

Viral! Ini Kisah Layangan Putus, Suami Secara Diam-diam Poligami Istrinya



Viral! Ini Kisah Layangan Putus, Suami Secara Diam-diam Poligami Istrinya

Viral! Ini Kisah Layangan Putus, Suami Secara Diam-diam Poligami Istrinya

pokerace99 - Kisah lokasi tinggal tangga seorang perempuan yang populer di media sosial dengan judul " Layangan Putus" tengah menjadi erhatian warganet sejumlah hari terakhir.

Kisah itu dianggap sebagai empiris pribadi seorang wanita empunya akun facebook Mommi ASF, yang ia tuliskan di akun pribadinya itu.

Postingan yang menggegerkan dunia sosial media tersebut memang sudah dihapus. Namun sampai kini kisahnya masih diperbincangkan netizen. Sebelum dihapus, sejumlah warganet memang sudah menyunting tangkapan layar (screenshoot) posting tersebut.



Ya, kedudukan panjang naratif tersebut berkisah tentang lokasi tinggal tangga empunya akun Mommi Asf yang bubar lantaran sang suami diam-diam menikahi wanita lain.

Fakta menyakitkan tersebut baru diketahui Mommi ASF sesudah suaminya tiba-tiba menghilang tak dapat dikontak pada tahun 2018 lalu.

Dua Belas Hari Menghilang

Setelah dua belas hari menghilang bak ditelan bumi, sang suami kesudahannya pulang. Tapi tak kunjung ada keterangan dan permintaan maaf untuk istrinya itu.

Barulah setahun lantas sang istri menemukan kenyataan mengejutkan di dalam handphone suaminya.

Bahwa sang suami diketahui sudah menikah lagi dan saat menghilang sekitar 12 hari kala itu, si suami tengah berbulan madu dengan istri muda di Turki.

Mommi Asf lantas menyebutkan momok yang ia alami tersebut di Facebook. Ia mengklaim kisahnya ditulis menurut fakta:

Awal Kisah Layangan Putus

Selesai subuh, aku menggali suami, hendak menggodanya. Semalam, ia tak masuk kamar melihatku, atau sebetulnya dia telah melakukannya, ketika aku tertidur lelap.
Kubuka kamarnya, sepi.

" Oh, barangkali belum kembali sholat subuh dari mushola," batinku. Tapi, tampak kamar masih rapi. Selimut terlipat, bantal dan guling masih tersusun. Tidak tampak kasur yang berakhir ditiduri.

Aku bingung, suamiku tidak izin menginap di kantor. Kuambil ponsel dan menghubunginya. Tersambung, namun tidak terdapat jawaban. Kuulangi sampai berkali kali . Nihil.

Kulihat jam telah menunjukan pukul 6 pagi, langit telah terang, gak barangkali dia di mushola sekitar ini. Aku mulai jengkel, kutelepon supir kantor. Kucecar Selamet dengan pertanyaan.

“ Lho Mba, sampeyan kan, istrinya! Moso mas Arif ga terdapat ngabarin?” jawab Selamet kaget.

“ Kemana dia?”

“ Ga tau aku mba! Cuma nganter ke bandara tok wingi....”

Paspor Tidak Ada

Reflek kuperiksa brankas mini yang terletak dilemari. Pasportnya tidak ada. Berbagai benak berkecamuk di kepalaku. Aku duduk dikamarnya menggali pentunjuk.

Semenjak anak keduaku lahir, memang suami lebih nyaman istirahat dikamar ini. Kecil namun tenang baginya, tidak terganggu suara tangis bayi.

Setiap kembali kantor seringnya malam hari, rutinitas kami ialah bercengkrama di ruang TV hingga lelah. Dia terkadang mengajakku bercerita di kamar ini hingga terlelap.

Kemudian aku pindah ke kamar utama kami, sebab di sanalah anak anak kami tidur. A masih tidak jarang terbangun tengah malam berteriak mencariku, mohon dipeluk.

Kusadari kameranya tidak ada. Kemarin, dia memang pamit bakal pemotretan guna liputan motor BMW, sebab itu, koper cabinnya yang mengandung kamera diangkut serta.

Tak terdapat pikiran mengherankan Aku percaya seluruh kalimat suamiku. Tapi, mengapa dia pergi tidak jujur padaku! Kemana dia?Aku ingat lagi, kemarin tidak terdapat yang aneh, tidak terdapat yang salah. Sebelum dia pergi dari rumah, kami bercumbu mesraaaa sekali. Hubungan kami bahkan sedang hangat hangatnya. Dia tidak jarang menggodaku belakangan ini.

Dan aku sedang kegemaran mengumpulkan lingerie guna menyenangkannya.
Kami sedang motivasi berolahraga supaya lebih fit. Sehingga Ranjang kami hidup sekali. Terlebih lagi, aku paling percaya dia. Dia empunya channel dakwah di youtube.

Mas Arif paham, menyentuh lawan jenis ialah haram baginya. Bahkan, menundukan pandangan terhadap perempuan non mahrom ialah kewajiban. Aku percaya betul suamiku.

Tapi, kemana dia?

Pulang Setelah 12 Hari Menghilang

Hatiku berdebar menjemput suamiku dibandara. Akhirnya, sesudah 12 hari pencarian, dia mengabarkan bakal pulang. Mas Arif memintaku menantikan dirumah. Tapi rasa khawatirku memuncak sudah. Aku tidak dapat duduk manis menunggunya di rumah. Segera kupacu mobil mengarah ke bandara.

Teringat, 10 hari lalu, aku penuh keadaan bingung mencarinya, semua bisa jadi berkecamuk di kepalaku. Apakah ia pergi dari lokasi tinggal tanpa kabar guna jihad? Apakah ia ke unsur timur tengah? Karena di antara ustadz kenalan kami terdapat yang pernah mengajaknya meliput ke Suriah ketika itu. Misinya guna membuka mata dunia bahwa Suriah perlu pertolongan.

Kutangisi niatnya ketika itu. Aku tak rela dia pergi ke unsur timur tengah. Karena itukah, dia ketika ini pergi tanpa pamit? Atau apakah dia bermasalah dengan pihak bea cukai dan lantas ditahan? Atau dia sedang dalam bahaya bahaya? Diculik dan ditakut-takuti pihak lawan bisnis?

Aku tak yakin dengan semua tanda-tanda tentang kepergiannya. Yang ada melulu kecemasan yang luar biasa.

Sepuluh hari kemudian akhirnya teleponku diusung olehnya.

“ Mbi aku titip anak anak" ujarnya buru buru.

“ Kamu inginkan kemana? Kamu inginkan kemanaaa?" cecarku.

“ Aku di Jakarta! Mas, pergi dulu. Kamu di lokasi tinggal baik -baik sama anak anak ya. Aku titip anak anak ya, Mbi. I love you."
bip bip bip... terputus.

Tidur ku tak tenang. Makanku tak nyaman. Duniaku berhenti berputar. Aku terus bertanya kemana? Dimana? Kenapa dapat dia pergi? Apa yang disembunyikan dariku?

Rekan kerjanya kudatangi untuk menggali info, nihil. Kerabat yang berposisi AKBP, kupinta pertolongan melacak nomor gawainya, gagal.

Nomor terdeteksi di wilayah pelosok jawa tengah. Namun, kerabatku mengaku bahwa pelacakan satelit belum pasti akurat. Hingga Kucari hacker guna menemukannya, namun tetap tak terdapat hasil.

[ Mbi, sehaaat? Kamu mesti sehat ya Sayang. Anak anak tadi nonton black panther, rindu anda banget] isi pesanku.

Mbi ialah panggilan sayang kami. Aku tak sempat apa yang mengakibatkan kami saling memanggil Mbi. Mungkin dari baby kemudian berpindah menjadi Mbi.

Hanya hadir centang satu, tak lama centang dua, namun tak pernah centang tersebut berubah warna menjadi biru. Pertanda tidak dibaca.

Kukirimi mas A potret dan voice note suara anak anak. Tak terdapat respon.

[Mbi, aku ga tau anda dimana, sedang apa, aku salah apa? Mbii, aku janji akan tidak jarang masak, kembali ya, Mbi]

[Aku kebangun kepikiran kamu, dimana kamu, Mas?]

Seperti biasa, pesanku melulu centang saru, sejumlah menit lantas centang dua tapi, tak pernah menjadi biru.

[Mbii, aku kejakarta sekarang! Aku tak peduli andai harus hilang disana! Aku akan menggali mu hingga ketemu!] Pesanku.

Kemudian dibalas.

[Jangan sayang, batalkan kepergianmu ke Jakarta. Aku akan kembali besok!]

[Kapan?] balasku singkat.

[Besok malam, Sayang. Tunggu aku ya!]

Kutelepon dia, masih tak diangkat. Lalu kuhujani mas A dengan pesan singkat.

[Kirim tiket mu!]
kukirim berulang pesan itu sampai dia merespon.

[Citilink 24/2, jam 17.00. Tunggulah di rumah! Isya nanti, aku telah di rumah, Mbi] jawabnya.

Suasana hening di mobil. Dia menyetir dan aku duduk dikursi penumpang menatap jalan, namun pikiranku entah kemana.

“ Mau makan?”

“ Kamu darimana?” jawabku

“ Ok. Kita bicara di rumah, ya."

Setiap dia membuka pembicaraan aku terus menjawabnya dengan kalimat yang sama.

" anda darimana?"

Dia ganteng sekali, rapi, bersih dan wangi. Suamiku memang ingin metroseksual, dia paling peduli bakal penampilan. Tapi, bukan tersebut yang membuatku jatuh cinta. Bukan jasmani bukan pula harta.

Teringat ketika kesatu kami merintis usaha ini, aku membantunya berjualan kartu perdana seluler untuk para bule di kuta, seraya kuliah. Menjajakan pulsa dan menyewakan handphone untuk para turis. Mas A yang mengajari aku guna tangguh, mengenalkan makna kerja keras.

Romantisme hadir saat duit kami tersisa sepuluh ribu. Mas A melakukan pembelian dua bungkus nasi jinggo, masing masing ekuivalen empat ribu. ketika dimakan ternyata telah basi.
Mas A terlihat kecewa tidak dapat memberiku makanan yang layak.

Sisa duit dua ribu, dibelikan gorengan untukku. Itulah, satu satunya makanan yang masuk keperutku. Aku terenyuh sekali. Romantis!

Mobil kami menginjak rumah. Anak anak menyambut dan memeluknya. Mereka rindu sekali. Selesai bermain, A bergegas mandi. Dan aku menidurkan anak anak.

Setelah mereka terlelap aku duduk diruang tv menanti jawaban dari sekian banyak pertanyaan belasan hari belakangan ini.

Temukan Foto Mesra di Ponsel Suami

Tanganku lancang membuka handphone A. Setelah pengakuannya yang lalu, aku masih belum berbaikan dengan diriku. Perasaan hancurku membuat tak mau membahas atau bertanya lebih jauh.

Aku memilih menggali tahu dengan tanganku sendiri. Pun A, terkadang sosok yang dingin. Tidak sedikitpun dia berjuang mengajakku bicara, meminta maaf atau menenangkanku.

Ponselnya disembunyikan di atas rak buku. Tak sadar airmataku mengalir. Kutemui ratusan potret mereka. Hatiku tersayat ... ngilu. Aku dalam kegelisahan yang amat sangat ketika ia menghilang sekitar 12 hari.

Api mas A tidak hilang. Dia melulu berhoneymoon di Cappadocia. Kota impianku.
Aku memang telah pernah pergi ke Turki saat membayar ibadah umroh, bersamanya.

Tapi, kali tersebut kami tidak menyentuh Capadocia. Betapa remuknya hatiku menyaksikan dia telah pergi kesana lebih dulu dengan istrinya yang baru. Istri muda yang baru 12 hari dinikahinya.

Aku tak kenal wanita itu. Aku tak pernah bertemu wanita itu. Yang kutahu dari suamiku, wanita tersebut cantik dan muda.

Aku marah dan murka. Aku merasa dikhianati. Maaf dari Mas A tak lumayan membuatku tenang. Ya Rabb... Ampuni aku.

Aku Sudah Tak Terikat Sebagai Istri

Selesai mandi, aku segera berpakaian. Ini mandi ke lima ku hari ini. Entah sebab gerah atau sebab kebutuhanku ketika ini. Menyenangkan sekali berada dibawah kucuran air.

Airmataku bias dengan jatuhnya air yang menyentuh wajah. Seperti di pijat, kutengadahkan wajahku menghadap shower. Mata, pipi, dan dahi terpapar pancuran air terasa yaman sekali.

Aku telah segar, apik dan wangi. Melangkah mengarah ke kamar tidur, kulihat jam dinding telah menunjukan angka sebelas malam. Anak anak tersusun apik terpejam dikasur.

Bukan saatnya tumbang, aku bukan layangan putus yang tak pasti arah. PR ku masih banyak, keempat anak ini punya masa mendatang yang indah.

Aku percayakan seluruh pada penopangku Alloh sang Maha Baik.

Jauh dilubuk hati, doaku guna mantan suami. Aku tidak dapat lagi menunaikan keharusan sebagai seorang isteri untuknya. Dia sah bukan milikku sekarang, kulepaskan segala kenangan perjuangan cinta kami yang dulu.

Aku telah tidak terbelenggu sebagai istrinya. Semoga ia diberi kesehatan, kelancaran dalam segala urusan. Bukan saatnya memaki. Sampai kapan pun,Aku tak boleh bermusuhan. Dia ialah ayah anak anakku. Kuselipkan namanya dalam doa doaku.

No comments

Powered by Blogger.